Kegagalan, lalu apa?

Pada postingan perdana saya ini, saya akan sedikit membahas mengenai suatu hal yang dialami oleh sebagian besar orang, yaitu gagal, satu kata yang mungkin akrab di telinga kalian para pembaca, kata tersebut  seperti dua sisi mata uang yang mana di satu sisi dapat menjadi bahan evaluasi diri dan menjadi lebih baik, dan di sisi lainnya menjadi momok yang membuat kita merasa letih dan tidak ingin lagi untuk mencoba dan mengusahakan peluang yang ada di depan mata. Dari pribadi saya sendiri, kegagalan sudah cukup akrab dalam kehidupan saya sejak tumbuh dewasa, diawali dengan kegagalan saya dikala Universitas negeri yang menolak saya pada tahun 2014 setelah saya lulus Sekolah Menengah Atas dimana saya sangat berharap untuk dapat diterima karena sesuai dengan minat saya, namun ternyata memang benar bahwa realita tak selalu sejalan dengan harapan dan ekspektasi, pada awalnya memang saya rasakan sakit dan tidak adil, namun seiring berjalannya hari saya renungkan dan berusaha melakukan cara yang lebih positif dengan tidak mempersalahkan siapapun namun menengok ke belakang bahwa saya menganggap remeh terhadap seleksi yang dilakukan oleh Universitas negeri tersebut serta kurang serius dalam mempelajari semua materi yang diujikan, dan saya mencoba mempersiapkan diri dengan baik dengan secara rutin selama 6 bulan memborong buku-buku bank soal untuk mempelajari model soal dan teknik pengerjaannya, dan pada hari pelaksanaan ujian tulis, dengan mengucap bismillah saya siap untuk mengerjakan dengan bekal hasil dari buku yang telah saya borong, dan di hari pengumuman Alhamdulillah dengan izin Allah Subhanallahu Waa Ta'ala saya diberikan amanah dengan lulus seleksi melalui jalur SBMPTN, suatu jalur yang dianggap menyulitkan bagi banyak pendaftar, mungkin juga termasuk para bloggers yang pernah mengikuti seleksi tersebut, dan dari pengalaman tersebut, saya mengambil hikmah bahwa segalanya perlu persiapan, termasuk persiapan untuk menerima kabar buruk, yakni kegagalan. 

Adanya prinsip "Hope for the best, and prepare for the worst" cukup mampu bagi kita bila sedang memperjuangkan suatu keinginan, karena memang keinginan tidak selalu dapat terpenuhi, namun kita mampu mengusahakannya diikuti dengan adanya doa kepada sang maha kuasa (agak normatif memang, namun terbukti), dan perlu bagi kita para bloggers serta pembaca, ditengah semua usaha yang kita lakukan kita perlu juga untuk realistis dan legowo dengan hasil apapun yang akan kita terima untuk kedepannya, prinsip lakukan yang terbaik, restu dari kedua orang tua, dan doa juga menjadi sebuah kewajiban selagi kita memperjuangkan keinginan kita. 

Dan sebagai penutup di postingan pertama saya ini, saya berharap bahwa postingan perdana dan sederhana saya dapat menginspirasi para bloggers dan rekan-rekan pembaca untuk mempelajari apa yang pernah saya alami, atau bahkan sedang memperjuangkan keinginannya, saya berharap semoga tercapai dan dapat memetik pelajaran berharga dari sekelumit pengalaman saya diatas. 

Comments